Kuliner Legendaris Malang yang Punya Nilai Sejarah
Kuliner legendaris Malang seperti rawon yang diyakini sudah ada sejak Kerajaan Majapahit, hingga Toko Oen yang berdiri sejak 1930, jadi bukti makanan bisa jadi jembatan sejarah, budaya, dan kehidupan sosial.
Saya selalu
percaya kalau cara paling jujur mengenal sebuah kota itu lewat piring makannya,
bukan cuma lewat candi atau museumnya. Di Malang, dua-duanya bisa jalan
beriringan.
Kalau
biasanya napak tilas identik sama sejarah kerajaan Malang lewat
candi-candi tua, kali ini kita coba telusuri sejarah lewat rasa, mulai dari
kuah hitam rawon sampai susu botol legendaris di sebuah depot tua.
Kenapa Makanan Bisa
Disebut Punya Nilai Sejarah?
Makanan
bisa disebut punya nilai sejarah karena merupakan produk budaya, hasil
kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya lokal untuk bertahan
hidup, bukan sekadar soal mengenyangkan perut.
Konsep
gastronomi memandang makanan sebagai jembatan antara sejarah, budaya, dan
kehidupan sosial suatu daerah. Di Malang, hampir setiap hidangan legendaris
punya cerita asal-usul yang terkait langsung dengan kondisi sosial zamannya.
Kuliner Apa di Malang yang
Sudah Ada Sejak Era Kerajaan?
Rawon
diyakini sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit, dengan istilah masakan
berkuah hitam berbahan kluwek yang ditemukan dalam prasasti kuno sebagai salah
satu jejak tertuanya.
Selain
rawon, ada juga orem-orem yang punya nilai sejarah berbeda, yaitu nilai
ketahanan pangan. Hidangan ini lahir pada masa penjajahan Jepang sebagai solusi
kreatif masyarakat saat krisis pangan dan harga bahan pokok melambung tinggi.
Secara
filosofis, orem-orem jadi simbol rasa syukur dan kesederhanaan masyarakat
Malang di masa sulit, bukan sekadar menu sarapan biasa.
Kuliner Mana yang Jadi
Jejak Era Kolonial Belanda?
Toko Oen
yang berdiri sejak tahun 1930 jadi salah satu jejak era kolonial paling kuat,
karena dulu menjadi tempat berkumpul warga Belanda, bahkan sering dijadikan
lokasi dansa dan pernikahan.
Beberapa
kuliner dan warung lawas lain yang juga menyimpan jejak kolonial dan tradisi
panjang:
- Warung Sate Gebug (berdiri 1920), menempati
bangunan peninggalan era kolonial Belanda yang masih dipertahankan hingga
kini.
- Warung Lama H. Ridwan (berdiri 1925), warung tertua
di Malang yang berawal dari jualan pikulan keliling sejak 1919 sebelum
akhirnya menetap di Pasar Besar.
Interior
Toko Oen sendiri masih mempertahankan gaya asli kolonial sebagai bagian dari
cagar budaya, lengkap dengan suasana yang seolah membawa pengunjung mundur ke
masa lalu.
Bagaimana Akulturasi
Tionghoa-Jawa Terlihat dari Kuliner Malang?
Akulturasi
Tionghoa-Jawa paling terlihat dari Bakso Malang, yang istilahnya berasal dari
bahasa Hokkien "bak-so" berarti daging giling, lengkap dengan legenda
Meng Bo dari abad ke-17 sebagai simbol kasih sayang anak kepada ibunya.
Jejak
akulturasi lain juga terlihat di Depot Hok Lay yang berdiri sejak 1946, dengan
menu andalan Pangsit Cwimie dan minuman khas Susu Fosco, resep asli sejak awal
berdiri yang masih disajikan dengan botol khas ala Coca-Cola.
Bambang
Surya Widjaja selaku pemilik Depot Hok Lay menjelaskan bahwa sebagai generasi
penerus, ia tetap mempertahankan keaslian bangunan, mulai dari lantai, jendela,
meja, hingga perabotan kasir demi menjaga autentisitas sejarah keluarga dan
kota.
Apa Oleh-Oleh Khas yang
Punya Cerita Sejarah Lokal?
Kampung
Sanan jadi sentra keripik tempe dengan resep yang diwariskan secara
turun-temurun, sementara keripik buah muncul dari upaya masyarakat memanfaatkan
kemelimpahan hasil alam Malang agar tahan lama.
Dua produk ini sebenarnya menunjukkan pola yang sama dengan orem-orem, yaitu kreativitas masyarakat dalam memberdayakan sumber daya lokal yang tersedia di sekitar mereka.
![]() |
| Interior Toko Oen kuliner legendaris Malang era kolonial |
Apa Kata Akademisi soal
Potensi Gastronomi Malang?
Menurut
Rina Rifqie Mariana, akademisi sekaligus dosen Tata Boga Universitas Negeri
Malang, gastronomi melihat makanan tidak hanya dari rasa dan aroma, tapi juga
proses pembuatannya dan sejarah di baliknya.
Ia
menekankan bahwa kekayaan kuliner Malang sangat potensial untuk mendukung
pengajuan Malang sebagai Kota Kreatif Gastronomi UNESCO, sebuah pengakuan yang
lebih dari sekadar status wisata kuliner biasa.
Pendapat
ini diperkuat oleh Ansori, informan wisata Toko Oen sejak 1994, yang
menyebutkan bahwa tempat itu bukan sekadar restoran, melainkan cagar budaya
yang tetap mempertahankan estetika ke-Jawa-annya lewat sajian kue tradisional
di tengah menu khas Belanda.
Cocok Buat Siapa Wisata
Kuliner Sejarah Malang Ini?
Wisata
kuliner sejarah Malang ini cocok buat wisatawan edukatif yang ingin tahu
asal-usul makanan, mahasiswa gastronomi, dan generasi muda yang menyukai narasi
nostalgia di balik tiap hidangan.
Buat yang
sudah puas keliling candi dalam rute sejarah kerajaan Malang, menutup
hari dengan semangkuk rawon hangat atau segelas Susu Fosco rasanya jadi cara
paling pas untuk merayakan sejarah lewat lidah, bukan cuma lewat mata.
Sejarah Malang nggak cuma tersimpan di batu candi atau koleksi museum, tapi juga di kuah rawon yang masih dimasak dengan resep turun temurun. Tinggal pilih, mau belajar sejarah lewat mata atau lewat lidah.

