Napak Tilas Sejarah Kerajaan Malang ala Anak Muda
Sejarah kerajaan Malang terekam di Candi Badut, Candi Singosari, Candi Kidal, dan Petirtaan Watugede, jejak Kanjuruhan hingga Singosari yang masih bisa dijelajahi gratis akhir pekan ini.
Saya sering
dengar keluhan anak muda Malang yang bingung mau healing ke mana selain kafe
dan gunung. Padahal di radius kurang dari satu jam dari pusat kota, ada deretan
candi yang umurnya ribuan tahun dan ceritanya nggak kalah seru dari drama
Korea.
Bukan cuma
soal foto estetik di depan candi tua. Rute napak tilas ini punya lapisan
cerita, mulai dari raja yang dijuluki "badut", sampai legenda garuda
yang membebaskan ibunya dari perbudakan ular.
Dari Mana Sebenarnya
Sejarah Kerajaan Malang Dimulai?
Sejarah
kerajaan Malang bermula dari Kerajaan Kanjuruhan yang jejaknya tersimpan di
Candi Badut, candi tertua di Jawa Timur. Candi ini dibangun sekitar tahun 760
Masehi pada masa pemerintahan Raja Gajayana.
Nama
"Badut" punya dua versi cerita. Satu menyebut asalnya dari kata
Sanskerta "Bha-dyut" yang berarti cahaya, merujuk pada pemujaan Dewa
Siwa. Versi lain bilang nama itu berasal dari "Liswa", nama kecil
Raja Gajayana yang artinya anak komedi atau pelawak, mirip makna
"badut" sekarang.
Soal
arsitektur, Candi Badut terbilang sederhana. Strukturnya dari batu andesit,
dengan ruangan induk berisi lingga dan yoni sebagai simbol kesuburan, plus
relief burung dan peniup seruling di dinding luarnya.
Buat saya,
justru kesederhanaan ini yang bikin Candi Badut terasa jujur. Nggak ada kesan
dipoles berlebihan, dan itu malah jadi nilai plus buat yang suka foto dengan
nuansa raw dan apa adanya.
Apa Saja Peninggalan
Kerajaan Singosari yang Masih Bisa Dikunjungi?
Peninggalan
Kerajaan Singosari yang masih bisa dikunjungi di antaranya Candi Singosari,
Candi Kidal, Petirtaan Watugede, dan Candi Jago. Semuanya tersebar di kawasan
Singosari dan Tumpang, Kabupaten Malang.
Berikut
rangkuman singkatnya:
- Candi Singosari, di Kelurahan Candirenggo,
dibangun sekitar tahun 1300 Masehi sebagai tempat pendharmaan Raja
Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singosari.
- Candi Kidal, dibangun tahun 1248 Masehi
untuk mendharmakan Raja Anusapati agar mendapat kemuliaan sebagai Syiwa
Mahadewa. Candi ini dikenal sebagai candi pemujaan tertua di Jawa Timur
yang masih berdiri kokoh.
- Petirtaan Watugede, pemandian kuno yang diyakini
sebagai tempat mandi keluarga kerajaan, termasuk permaisuri legendaris Ken
Dedes. Mata airnya masih mengalir dari mulut arca sampai hari ini.
- Candi Jago, dibangun antara tahun 1268
sampai 1280 Masehi sebagai penghormatan untuk Raja Singasari ke-4, Sri
Jaya Wisnuwardhana.
Khusus
Candi Jago, ceritanya cukup panjang karena candi ini jadi bukti perpaduan unik
Hindu-Buddha di akhir masa Singhasari, lengkap dengan relief yang membuatnya
jadi satu-satunya candi di Indonesia yang punya pahatan kisah Ari Darma.
Cerita Apa yang
Tersembunyi di Balik Relief Candi Kidal?
Relief
paling terkenal di Candi Kidal mengisahkan mitos Garudheya, perjuangan burung
garuda membebaskan ibunya, Dewi Winata, dari perbudakan ular dengan tebusan
Tirta Amerta. Kisah ini bukan sekadar dongeng tempelan.
Konon,
relief ini dipahat atas amanat Anusapati untuk meruwat ibunya sendiri, Ken
Dedes, agar lepas dari penderitaan batin. Jadi ada dimensi personal yang ikut
terpahat di batu candi, bukan cuma ajaran agama semata.
Masih di
seputar legenda Ken Arok, ada juga Sumber Nagan yang diyakini sebagai lokasi
pembuatan pusaka kerajaan, sekaligus tempat Ken Arok menanti keris Mpu
Gandring. Buat yang suka drama politik kerajaan kuno, lokasi ini wajib
dimasukkan daftar.
Rute Mana yang Paling Pas
Buat Napak Tilas Sehari?
Rute paling
pas buat napak tilas sehari tergantung preferensi, ada jalur edukasi penuh dan
jalur santai yang lebih instagramable. Keduanya bisa ditempuh dalam satu hari
kalau berangkat pagi.
Dua opsi
rute yang bisa dipilih:
- Jalur Wisata Edukasi (Full
Sejarah):
Candi Singosari → Museum Singhasari → Candi Sumberawan →
Petirtaan Watugede. Cocok buat yang serius mau paham alur sejarah
Singosari secara berurutan.
- Jalur Wisata Santai
(Instagramable):
Candi Singosari → Candi Sumberawan, dengan area
hutan pinus asri yang cocok buat piknik santai.
Kalau mau
jalur tambahan yang lebih jarang dilirik orang, mampir ke Candi Jago di
Tumpang juga layak dipertimbangkan, apalagi candi ini menyimpan kombinasi
relief Hindu-Buddha yang nggak ada duanya di Indonesia.
Buat
komunitas gowes, rute ini juga ramah sepeda karena jalanannya relatif landai
dan jaraknya antar titik nggak terlalu jauh.
Berapa Biaya yang
Dibutuhkan untuk Napak Tilas Sejarah Kerajaan Malang?
Biaya napak
tilas sejarah kerajaan Malang relatif murah karena sebagian besar candi gratis
atau hanya minta donasi sukarela. Pengeluaran terbesar biasanya justru di
bensin dan jajan selama perjalanan.
Beberapa
lokasi seperti Candi Badut, Candi Singosari, dan Petirtaan Watugede umumnya
tidak memungut tiket masuk resmi, hanya donasi sukarela untuk perawatan. Beda
cerita kalau mampir ke museum atau candi yang sudah dikelola lebih formal
seperti Candi Jago, yang punya tarif tiket tersendiri.
Kalau mau
memperpanjang napak tilas ke era yang lebih modern, koleksi di Museum
Brawijaya juga bisa jadi pemberhentian tambahan, dengan harga tiket yang
sama-sama ramah kantong mahasiswa.
Apakah Worth It Napak
Tilas Sejarah Kerajaan Malang Buat Konten Sosial Media?
Napak tilas
sejarah kerajaan Malang cukup worth it buat konten sosial media karena punya
latar visual kuno yang jarang dipakai kreator lain, plus cerita yang bisa jadi
caption kuat. Bukan sekadar foto kosong di depan batu.
Beberapa
aktivitas pendukung yang bisa menambah variasi konten:
- Ngopi estetik dengan
pemandangan candi di Cafe Latar Candi.
- Mencoba melukis topeng khas
Malangan di Museum Panji.
- Mampir berburu kuliner lawas
seperti rawon yang konon sudah ada sejak zaman Majapahit, sebagai penutup
napak tilas yang menyatu antara sejarah dan rasa.
Kombinasi
candi, kopi, dan kuliner legendaris ini yang bikin rute napak tilas Malang beda
dari sekadar wisata candi pada umumnya.
Apa Kata Ahli soal
Pentingnya Jalur Wisata Sejarah Singosari?
Menurut
penelitian Ibnu Sasongko dan tim dari ITN Malang tahun 2023, penentuan jalur
wisata sejarah Singosari penting karena banyak masyarakat belum benar-benar
mengenal makna bangunan di setiap cagar budaya yang mereka kunjungi.
Tim
peneliti ini menyarankan penggunaan peta wisata supaya pengunjung bisa memahami
alur sejarah secara berkesinambungan, bukan cuma mampir-foto-pulang tanpa tahu
konteksnya.
Dari sisi
pengalaman langsung, jurnalis perjalanan Melinda Yuliani pernah mencatat bahwa
Candi Kidal adalah destinasi anti-mainstream yang sangat terawat, dengan
lingkungan pedesaan asri di sepanjang jalan menuju candi yang jadi nilai tambah
tersendiri buat wisatawan.
Napak tilas
sejarah kerajaan di Malang Raya bukan wisata yang butuh modal besar atau
persiapan ribet. Cukup motor, niat, dan sedikit rasa penasaran sama cerita di
balik batu-batu tua itu.
Mau jalur
edukasi penuh atau jalur santai buat healing, semuanya bisa disesuaikan sama
waktu dan tenaga yang kamu punya. Yang penting, jangan cuma foto, baca juga
papan informasinya.