Candi Jago Tumpang, Perpaduan Hindu-Buddha Unik
Candi Jago di Tumpang, Kabupaten Malang, dibangun atas perintah Raja Kertanegara antara tahun 1268 sampai 1280 Masehi sebagai penghormatan untuk ayahnya, Wisnuwardhana, dan jadi bukti nyata perpaduan Syiwa-Buddha masa Singhasari.
Candi ini
juga satu-satunya di Indonesia yang punya relief kisah Ari Darma, lengkap
dengan cerita fabel Tantri Kamandaka dan Kunjarakarna di teras-terasnya.
Candi Jago
di Tumpang adalah peninggalan Kerajaan Singhasari yang dibangun tahun 1268-1280
Masehi, menyimpan perpaduan relief Hindu-Buddha dan satu-satunya pahatan kisah
Ari Darma di Indonesia.
Banyak
orang Malang sendiri yang belum pernah ke sini, padahal jaraknya cuma sekitar
22 kilometer ke arah timur dari pusat kota. Saya rasa ini salah satu candi
paling underrated di antara deretan napak tilas sejarah kerajaan Malang
yang sering dibahas.
Bukan cuma
soal umur bangunannya. Candi Jago punya keunikan yang nggak ditemukan di candi
lain se-Jawa Timur, yaitu percampuran dua aliran kepercayaan dalam satu
bangunan.
Apa Arti Nama Asli Candi
Jago?
Nama asli
Candi Jago adalah Jajaghu, berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti
"Keagungan". Masyarakat setempat juga sering menyebutnya Candi
Tumpang atau "Cungkup", istilah untuk bangunan yang dikeramatkan.
Candi ini
berlokasi di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.
Posisinya cukup strategis kalau mau dijadikan titik lanjutan setelah dari Candi
Singosari atau Candi Kidal.
Kapan dan Untuk Apa Candi
Jago Dibangun?
Candi Jago
dibangun atas perintah Raja Kertanegara antara tahun 1268 hingga 1280 Masehi
sebagai bentuk penghormatan atau pendharmaan bagi ayahandanya, Raja
Wisnuwardhana, Raja Singhasari ke-4.
Yang
menarik, Wisnuwardhana ternyata didharmakan di dua tempat dengan dua identitas
keagamaan berbeda. Di Candi Jago ia didharmakan sebagai Buddha dengan nama
Amoghapasa, sementara di Candi Waleri ia didharmakan sebagai Hindu atau Syiwa.
Fakta ini
jadi bukti nyata bahwa Candi Jago merupakan hasil dari aliran Syiwa-Buddha atau
Tantrayana yang berkembang pesat di masa akhir Kerajaan Singhasari.
Bagaimana Bentuk
Arsitektur Candi Jago?
Arsitektur
Candi Jago berbentuk punden berundak menyerupai gaya megalitikum, terdiri dari
tiga teras bertingkat yang semakin mengecil ke atas, dengan material utama batu
andesit.
Bagian
atapnya diperkirakan dulu berbentuk Meru atau Pagoda dari bahan kayu dan ijuk,
namun bagian ini sudah hilang dimakan waktu dan hanya menyisakan struktur
batunya.
Cerita Apa Saja yang
Terpahat di Relief Candi Jago?
Relief
Candi Jago dibaca secara Pradaksina (searah jarum jam) atau Prasawya
(berlawanan arah jarum jam) tergantung tingkatan terasnya, dan memuat beberapa
kisah berbeda di tiap level.
Berikut
sebaran ceritanya:
- Teras Pertama: fabel Tantri Kamandaka, ajaran
moral lewat kisah hewan, serta kisah Kunjarakarna tentang ajaran Buddha
mengenai pembersihan dosa.
- Teras Kedua: kelanjutan kisah Kunjarakarna,
ditambah petikan epos Hindu seperti Parthayajna dan Arjunawiwaha.
- Teras Ketiga dan Tubuh Candi: didominasi relief Arjunawiwaha
dan Kresnayana yang kental nuansa Hindu.
Yang paling
unik, Candi Jago adalah satu-satunya candi di Indonesia yang memahatkan relief
Ari Darma atau Angling Darma, kisah seorang raja yang bisa berbicara dengan
binatang. Nilai jualnya jelas beda dari candi-candi lain di sekitar sejarah
kerajaan Malang.
Apakah Pengunjung Boleh
Naik ke Struktur Candi Jago?
Pengunjung
tidak diperkenankan menaiki struktur utama Candi Jago karena kondisi bangunan
yang sudah rapuh dan demi menjaga kelestarian situs cagar budaya ini.
Catatan ini
datang dari pengamatan langsung pengunjung bernama Amalia Nur Laila, yang
menyoroti kondisi terkini candi saat berkunjung. Jadi kalau ke sana, cukup
nikmati dari jarak aman dan fokus mengamati detail reliefnya saja.
![]() |
| Relief Kresnayana di dinding Candi Jago Tumpang Malang |
Apa Makna Relief
Kunjarakarna Menurut Ahli?
Menurut
analisis stilistika Dr. Ika Farihah Hentihu dari UIN Malang, relief
Kunjarakarna di Candi Jago menggambarkan nilai budi luhur lewat perjalanan
manusia dalam menjalankan misi spiritualnya.
Sementara
dari sisi arkeologi, Goenawan A. Sambodo selaku tim ahli cagar budaya
menjelaskan bahwa peresmian candi ini pada tahun 1280 Masehi bertepatan dengan
upacara Sradha, yaitu peringatan 12 tahun wafatnya sang raja.
Ia juga
mencatat detail kecil yang sering luput dari mata wisatawan biasa, yaitu motif padma
atau teratai yang menjulur dari bongkolnya pada tatakan arca, sebuah ciri khas
seni masa Singhasari.
Berapa Harga Tiket dan Jam
Buka Candi Jago?
Jam buka
Candi Jago setiap hari pukul 07.30 sampai 16.00 WIB, dengan estimasi harga
tiket tahun 2026 sekitar Rp10.000 di hari biasa dan Rp15.000 di akhir pekan.
Fasilitas
yang tersedia di lokasi cukup lengkap untuk ukuran situs cagar budaya:
- Area parkir kendaraan.
- Toilet umum.
- Gazebo untuk istirahat.
- Papan informasi sejarah.
- Jasa pemandu lokal bagi yang
ingin penjelasan lebih detail.
Candi Jago
membuktikan kalau sejarah kerajaan Singhasari nggak melulu soal pertarungan
tahta, tapi juga soal toleransi dua kepercayaan yang berdampingan dalam satu
bangunan suci. Sayang banget kalau dilewatkan begitu saja.

