Slow Travel Gen Z 2026, Liburan Tanpa Harus Fomo
Lebih dari 70% wisatawan mencari informasi di media sosial sebelum bepergian, dan tren slow travel di kalangan Gen Z 2026 muncul sebagai cara menghindari jebakan FOMO dari kebiasaan ini.
Saya pernah
pulang dari liburan justru lebih lelah dari sebelum berangkat. Itinerary padat,
kejar-kejaran sama jam buka tempat foto viral, ujung-ujungnya nggak ada momen
yang benar-benar nempel di kepala.
Ternyata
bukan cuma saya yang ngerasa begitu. Gen Z di 2026 diprediksi makin banyak yang
beralih ke gaya liburan yang lebih lambat dan personal.
Apa Itu Slow Travel
Sebenarnya?
Slow travel
adalah tren pariwisata yang mengedepankan kualitas perjalanan lebih intim
dibanding sekadar mengunjungi banyak tempat untuk dipamerkan di media sosial.
Fokusnya bukan jumlah destinasi, tapi kedalaman pengalaman.
- Mengutamakan koneksi mendalam
dengan destinasi, orang-orangnya, tradisinya, sampai warung lokal pinggir
jalan
- Meminimalkan jarak tempuh dan
memaksimalkan waktu di satu lokasi
- Menikmati kuliner lokal sambil
meminimalkan jejak karbon dan penggunaan teknologi
Janet
Dickinson dan Les Lumsdon, pakar yang merumuskan konsep ini, menyebut nilai
slow travel terletak pada keterlambatan fisik yang memungkinkan pejalan
menikmati ekologi dan keberagaman budaya secara mendalam.
Kenapa Gen Z 2026 Justru
Tertarik Liburan Lebih Lambat?
Gen Z di
2026 diprediksi meninggalkan itinerary padat demi pengalaman yang lebih
personal, terutama karena tekanan kesehatan mental dari kehidupan digital yang
serba cepat. Slow travel jadi semacam jalan keluar.
Berlian
Sekar Ayu, peneliti dari UIN Raden Mas Said, menjelaskan bahwa pariwisata
adalah sarana self-healing yang efektif. Menurutnya, interaksi dengan alam dan
keterlibatan dalam aktivitas santai memberikan perspektif baru terhadap
permasalahan hidup.
Selain itu,
wisatawan 2026 juga makin selektif soal isu lingkungan. Mereka lebih mencari
destinasi berkelanjutan yang mendukung komunitas lokal, bukan sekadar tempat
yang lagi ramai di linimasa.
Gimana FOMO Bisa Merusak
Pengalaman Liburan?
FOMO
membuat wisatawan terburu-buru mengunjungi destinasi hanya karena sedang viral,
bukan karena benar-benar ingin merasakannya. Media sosial seperti Instagram dan
TikTok jadi pemicu utama kecemasan ini.
Data
menunjukkan lebih dari 70% wisatawan mencari informasi di media sosial sebelum
bepergian, dan gambar atau video yang dibagikan sangat memengaruhi keputusan
mereka.
Akibatnya,
banyak orang akhirnya membandingkan liburan sendiri dengan unggahan orang lain
lewat social comparison.
Padahal
kepuasan batin jauh lebih penting dibanding validasi digital semata. Slow
travel mengajak pejalan berhenti dari kebiasaan membandingkan diri ini dan
lebih fokus menikmati momen yang sedang dijalani.
Apa Dampak FOMO Terhadap
Destinasi Wisata?
FOMO bisa
mendorong overtourism karena wisatawan cenderung memadati destinasi yang sama
secara bersamaan hanya karena viral. Dampaknya bukan cuma soal kenyamanan, tapi
juga keberlanjutan lingkungan destinasi itu sendiri.
Budi
Satria, peneliti Universitas Dian Nusantara, menyoroti hal ini dan menyarankan
industri pariwisata untuk mempromosikan destinasi yang lebih beragam dan
autentik demi menjaga kualitas pengalaman wisatawan sekaligus keberlanjutan
lingkungan.
Ini
sebabnya destinasi alternatif yang lebih sunyi jadi makin relevan, bukan cuma
buat menghindari keramaian, tapi juga buat menyebar dampak ekonomi wisata
secara lebih merata.
Destinasi Mana yang Pas
Buat Slow Travel di Indonesia?
Kepulauan
Kei di Maluku jadi definisi sejati slow travel dengan ritme hidup yang sangat
lambat dan pantai berpasir putih yang tenang. Tapi ada beberapa destinasi lain
yang juga layak dicoba.
- Tomohon di Sulawesi Utara, kota
bunga asri dan sejuk tanpa perlu terburu-buru
- Ende di Flores, menawarkan
pengalaman budaya otentik seperti menenun kain ikat dan menikmati kopi
lokal
- Buleleng di Bali Utara, sisi
tenang Bali yang jauh dari hingar bingar selatan
Kalau
destinasi seperti ini terasa terlalu jauh dari Jawa Timur, sebenarnya filosofi
slow travel juga bisa diterapkan dekat rumah. Misalnya lewat rekomendasi
spot work from nature di Jatim yang menawarkan ketenangan serupa tanpa
harus terbang jauh.
Apakah Slow Travel Bisa
Digabung dengan Kerja Remote?
Bisa,
bahkan kombinasi ini sedang jadi tren tersendiri di kalangan pekerja remote
yang ingin liburan lebih bermakna tanpa harus berhenti total dari pekerjaan.
Konsepnya mirip workation tapi dengan ritme yang jauh lebih santai.
Buat yang
tertarik mencoba versi lokal dari konsep ini, gaya hidup nomaden digital di desa Jatim sebenarnya sudah mencerminkan filosofi slow travel, cuma dengan
tambahan kebutuhan koneksi internet yang tetap terjamin.
Slow travel
bukan cuma tentang jalan-jalan lebih lambat. Ini soal melawan tekanan FOMO dari
media sosial dan kembali menikmati perjalanan sebagai pengalaman pribadi, bukan
konten yang harus dipamerkan ke orang lain.
DAFTAR
SUMBER
- E-Journal Universitas Raden Mas
Said Surakarta - Healing Journey: Menggunakan Pariwisata Sebagai Sarana
Self-Healing
- Jurnal Psikologi Atribusi
(Universitas Bhayangkara Jakarta Raya) - Menghadapi FOMO dalam Wisata:
Peran Media Sosial dalam Pembentukan Preferensi Destinasi
- Kementerian Pariwisata RI
(Wonderful Indonesia) - Indonesia Tourism Outlook 2025/2026 tentang Tren
Pariwisata Personal dan Autentik