Penjara Kalisosok Surabaya, Sejarah Kelam di Balik Temboknya

Penjara
Kalisosok Surabaya dibangun sejak 1808 dan menjadi salah satu penjara kolonial
paling brutal di Indonesia, dengan fasilitas penyiksaan seperti sel air lintah
dan ruang tunggu guillotine yang pernah meringkus tokoh-tokoh besar bangsa.
Kini
bangunan ini terbengkalai dan sebagian dialihfungsikan menjadi kos-kosan, meski
statusnya adalah Cagar Budaya Tipe A.
Kalau kamu
melintas di kawasan Krembangan, Surabaya, ada bangunan tua bertembok tebal yang
hampir tidak kelihatan dari jalan karena tertutup aktivitas sehari-hari di
sekitarnya. Itulah Penjara Kalisosok, tempat yang punya sejarah lebih berat
dari yang bisa dibayangkan dari tampilannya sekarang.
Ini bukan
penjara biasa. Ini adalah tempat di mana Ir. Soekarno, H.O.S. Tjokroaminoto,
W.R. Soepratman, dan K.H. Mas Mansyur pernah dikurung oleh sistem kolonial yang
ingin membungkam perlawanan mereka.
Kapan Penjara Kalisosok
Dibangun?
Penjara ini
dibangun atas instruksi Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada 1
September 1808, dengan biaya awal 8.000 Gulden. Kemudian diperluas pada 1848
dengan biaya yang jauh lebih besar: 60.000 Gulden.
Orang
Belanda menyebutnya Werfstraat Gevangenis. Warga pribumi cukup
menyebutnya "Bui", atau Penjara Kalisosok.
Arsitekturnya
dirancang bukan untuk rehabilitasi, tapi untuk menghancurkan semangat. Dinding
cor yang sangat tebal, sel sempit, ventilasi minimal. Kapasitas yang seharusnya
diisi 20 orang dipaksa menampung hingga 90, membuat wabah pes dan kolera bukan
hal mengejutkan di sini.
Apa Saja Fasilitas
Penyiksaan di Dalamnya?
Ini bagian
yang paling sering membuat orang tidak percaya bahwa tempat seperti ini
benar-benar pernah ada di tengah kota.
Beberapa
fasilitas penyiksaan yang terdokumentasi:
- Kamar Stempel - ruangan khusus di mana calon
tahanan dicap tangannya menggunakan besi panas dengan huruf "G"
(Gevangene, artinya tahanan)
- Waterkasteel (Istana Air) - sel yang
sengaja digenangi air dan dipenuhi lintah untuk menyiksa tawanan secara
fisik dan psikologis
- Treurkamer (Kamar Duka) - ruang di mana
narapidana menunggu eksekusi mati, entah itu tiang gantungan atau
guillotine
- Rantai bandul besi - dipakaikan di tangan dan
kaki tahanan hingga sering menyebabkan luka yang membusuk
Sel-sel
yang ada berukuran sekitar 2,5 x 4 meter dan dibagi menjadi dua bagian. Ukuran
itu untuk dua orang dalam kondisi normal. Untuk 90 orang, tidak ada kata yang
cukup untuk menggambarkannya.
Siapa Saja Tokoh yang
Pernah Ditahan di Sini?
Daftar ini
adalah sebagian dari kenapa Penjara Kalisosok punya bobot sejarah yang tidak
bisa diremehkan:
- Ir. Soekarno - proklamator kemerdekaan
Indonesia
- H.O.S. Tjokroaminoto - pendiri Sarekat Islam, guru
politik Soekarno
- W.R. Soepratman - pencipta lagu Indonesia Raya
- K.H. Mas Mansyur - tokoh Muhammadiyah dan
pergerakan Islam
Mereka
semua pernah merasakan dinginnya dinding penjara yang sama. Dalam kondisi yang
sama pula.
Ada Pemberontakan Heroik
di Kalisosok?
Ada, dan
ini adalah bagian yang sering tidak diceritakan.
Pada
Oktober 1945, di bawah pimpinan Mayor Dollah, sekelompok tahanan berhasil
menjebol tembok sisi utara penjara dan melarikan diri. Peristiwa ini dikenal
sebagai gerakan Laskar Pendjara, dan menjadi salah satu bukti bahwa
semangat perlawanan tidak bisa dikurung oleh tembok setebal apapun.
Ironisnya,
tembok yang konon tidak bisa ditembus paku itu, akhirnya dijebol secara tak
bertanggung jawab oleh oknum tidak dikenal pada 2021, bukan untuk perlawanan
heroik, tapi sekadar perusakan.
Mengapa Kalisosok Kini
Terbengkalai?
Ini adalah
pertanyaan yang jawabannya memalukan.
Penjara
Kalisosok berstatus Bangunan Cagar Budaya Tipe A, status tertinggi dalam
kategori perlindungan warisan budaya. Tapi kondisi aktualnya sangat
kontradiktif: area di dalam dan sekitar penjara sempat beralih fungsi menjadi
gudang logistik, tempat parkir truk kontainer, dan kos-kosan sempit dan kumuh.
Bangunan
yang memenjarakan Soekarno kini ditumbuhi lumut dan akar liar. Temboknya
dijebol. Sebagian areanya disewakan.
Prof. Dr.
Purnawan Basundoro, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga,
menyatakan dengan tegas: "Adanya Wisata Penjara Kalisosok dapat
mengoptimalkan pemanfaatan cagar budaya yang terbengkalai. Wisata penjara
merupakan jenis wisata terbilang unik, karena selain sebagai tempat wisata yang
memiliki edukasi, juga memiliki kesan horor."
Ia melihat
Kalisosok sebagai bagian integral dari gagasan Kota Lama Surabaya, yang jika
dikembangkan dengan benar, bisa menjadi destinasi heritage city kelas
dunia.
Apakah Kalisosok
Benar-Benar Angker?
Secara
literal historis, ya, ada banyak sekali penderitaan dan kematian yang terjadi
di tempat ini. Laporan tentang jeritan di malam hari, penampakan perempuan
Belanda berpakaian perawat, hingga bayangan algojo, memang sering diceritakan
warga dan tukang becak sekitar.
Tapi
menariknya, aura mistis itu justru menjadi lapisan tambahan yang membuat
Kalisosok berpotensi besar sebagai destinasi dark tourism. Bukan untuk
menakut-nakuti, tapi untuk membuat pengunjung lebih hadir secara mental di
ruang sejarah itu.
Dalam peta dark tourism Jawa Timur yang lebih luas, Kalisosok adalah salah satu titik
paling padat secara historis, bukan hanya karena siapa yang pernah dikurung di
sana, tapi karena berapa banyak cerita yang masih belum sepenuhnya diceritakan.
Penjara
Kalisosok adalah paradoks yang nyata: bangunan dengan nilai sejarah tertinggi
di Surabaya, tapi dibiarkan perlahan rusak dan beralih fungsi menjadi hal-hal
yang tidak ada hubungannya dengan sejarah.
Revitalisasinya
bukan soal nostalgia, tapi soal tanggung jawab kolektif terhadap memori bangsa.
Dan sampai itu terjadi, setidaknya ceritanya perlu terus dihidupkan.