Eco-Anxiety pada Gen-Z, Kenali Gejalanya dan Ubah Panik Jadi Aksi
Eco-anxiety adalah ketakutan kronis akan datangnya malapetaka lingkungan, didefinisikan oleh American Psychiatric Association, dan bisa diubah menjadi pemicu aksi nyata dengan pendekatan yang tepat.
Kamu scroll berita, lihat banjir di sana, kebakaran hutan di sana, suhu rekor di tempat lain, lalu tiba-tiba merasa ada yang berat di dada. Bukan sedih biasa, tapi semacam rasa tidak berdaya yang aneh. Seperti masalahnya terlalu besar dan kamu terlalu kecil untuk melakukan apa pun.
Kalau itu terasa familiar, ada nama medisnya
Apa Itu Eco-Anxiety?
American Psychiatric Association (APA) mendefinisikan eco-anxiety sebagai ketakutan kronis akan datangnya malapetaka lingkungan.
Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh filsuf Glenn Albrecht, yang juga memperkenalkan konsep solastalgia, yaitu rasa sedih akibat perubahan drastis pada lingkungan tempat tinggal seseorang.
Ini bukan kondisi yang dibuat-buat atau tanda kelemahan mental. Ini respons yang sangat manusiawi terhadap situasi yang memang mengancam.
Gejalanya Seperti Apa?
Eco-anxiety bukan sekadar khawatir soal cuaca. Gejalanya bisa jauh lebih mengganggu:
- Stres dan depresi yang dipicu oleh berita bencana alam berulang
- Gangguan tidur karena pikiran tentang masa depan lingkungan
- Doom scrolling, yaitu terus-menerus mengonsumsi berita negatif seputar iklim meski semakin menekan perasaan
- Eco-paralysis: kondisi di mana rasa cemas sudah sedemikian besar sehingga seseorang justru tidak melakukan apa-apa karena merasa masalahnya terlalu besar untuk diatasi
dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa mengingatkan bahwa cemas akan krisis lingkungan pada dasarnya adalah respons normal dari kepedulian. Namun saat hal itu mulai menyebabkan doom scrolling, depresi, dan memengaruhi aktivitas sehari-hari, kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
Apakah Rasa Cemas Ini Selalu Buruk?
Tidak. Dan ini bagian yang sering terlewat dari diskusi tentang eco-anxiety.
Penelitian menunjukkan bahwa bentuk distres terkait iklim sebenarnya berhubungan positif dengan perilaku ramah lingkungan.
Ketika seseorang merasa terancam, emosi itu bisa diubah menjadi keyakinan diri dan dorongan untuk bertindak, mulai dari aksi protes iklim, menghemat energi, hingga mengubah gaya hidup secara keseluruhan.
Dr. Rahkman Ardi dari Universitas Airlangga menyatakan bahwa rasa cemas terhadap krisis iklim, dalam takaran tertentu, bisa menjadi sumber energi sosial yang menggerakkan potensi untuk bertindak dan mengubah distres menjadi pemicu aksi iklim.
Kuncinya adalah "dalam takaran tertentu". Kecemasan yang tidak dikelola bisa berubah menjadi eco-paralysis. Tapi yang dikelola dengan baik bisa menjadi bahan bakar yang produktif.
Cara Mengubah Panik Jadi Aksi
Langkah 1: Regulasi Emosi Dulu
Sebelum bisa bertindak, kamu perlu bisa bernapas. Secara harfiah.
Saat panik tiba-tiba menyerang karena berita cuaca ekstrem, coba teknik grounding 5-4-3-2-1:
- Fokus pada 5 hal yang bisa kamu lihat
- 4 hal yang bisa kamu sentuh
- 3 hal yang bisa kamu dengar
- 2 hal yang bisa kamu cium
- 1 hal yang bisa kamu rasakan
Teknik ini membantu sistem saraf keluar dari mode panik dengan cara membawa perhatian kembali ke momen saat ini. Praktik mindfulness yang konsisten juga terbukti menurunkan gejala depresi dan stres akibat paparan berita negatif tentang iklim.
Langkah 2: Berhenti Merasa Sendirian
Eco-anxiety sering terasa lebih berat karena dirasakan dalam kesendirian. Bergabung dengan komunitas yang punya keprihatinan serupa terbukti menumbuhkan harapan dan mendorong aksi nyata.
Beberapa komunitas yang bisa jadi titik masuk:
- Zero Waste Indonesia (ZWID): belajar gaya hidup minim sampah secara konkret
- Youth for Climate Change (YFCC) Indonesia: gerakan anak muda yang fokus pada advokasi kebijakan iklim
- Earth Hour: kampanye global yang memiliki jaringan lokal aktif di banyak kota Indonesia
Langkah 3: Aksi Skala Pribadi yang Terukur
Salah satu penyebab eco-paralysis adalah merasa bahwa aksi individu tidak berarti apa-apa dibanding skala masalahnya. Cara keluar dari jebakan ini adalah dengan memilih satu aksi konkret yang terukur.
Tidak harus besar. Bisa dimulai dari:
- Mengurangi pembelian fast fashion dan beralih ke preloved atau upcycling lokal
- Memilah sampah di rumah dengan serius
- Mendukung bisnis lokal yang punya komitmen keberlanjutan nyata
Kalau aksi itu terasa kecil, ingat bahwa itulah titik awal dari setiap gerakan yang lebih besar. Dan jika kamu tertarik menjadikan kepedulian itu sebagai karir yang juga menghasilkan, dunia green jobs sedang membuka lebih banyak pintu dari yang pernah ada sebelumnya.
Langkah 4: Cari Bantuan Profesional Jika Diperlukan
Jika eco-anxiety sudah mengganggu tidur, konsentrasi belajar, atau hubungan sosialmu secara berkelanjutan, ini sinyal untuk mencari bantuan dari psikolog. Saat ini sudah semakin banyak profesional kesehatan mental yang terlatih menangani kecemasan berbasis iklim dan lingkungan.
Tidak ada yang salah dengan meminta bantuan. Justru itu adalah bentuk aksi yang paling bertanggung jawab, dimulai dari diri sendiri.
Bukan Beban, Tapi Bukti Kepedulian
Eco-anxiety tidak akan hilang selama krisis iklim masih berlangsung. Tapi itu bukan alasan untuk membiarkannya menguras energi tanpa arah.
Rasa cemas itu ada karena kamu peduli. Dan kepedulian, kalau dikelola dengan benar, adalah bahan bakar yang paling berkelanjutan untuk perubahan nyata.
![]() |
| Kelompok anak muda berdiri membentuk lingkaran di taman kota, ekspresi optimis dan bersemangat |
Eco-anxiety adalah respons yang valid terhadap kondisi iklim yang nyata. Kuncinya bukan menghilangkan kecemasan itu, melainkan mengubahnya dari sesuatu yang membekukan menjadi sesuatu yang menggerakkan.
Dengan regulasi emosi, aksi kolektif, dan dukungan profesional jika perlu, kecemasan itu bisa menjadi salah satu kekuatan terbesar yang dimiliki Gen-Z.
