Eco-Tourism Jawa Timur, Liburan Sambil Pungut Sampah ala Gen-Z
Eco-tourism di Jawa Timur adalah perjalanan wisata ke kawasan alam yang aktif menjaga kelestarian lingkungan, didorong oleh komunitas Gen-Z yang kini menjadi motor utama gerakan ini dari Bromo hingga Banyuwangi.
Kalau dulu
liburan itu soal foto di depan landmark terus pulang, sekarang ceritanya beda.
Gen-Z punya standar baru: mereka mau pergi, tapi bumi juga harus senang. Dan
Jawa Timur, dengan segala kekayaan alamnya, jadi salah satu medan paling aktif
gerakan eco-tourism di Indonesia saat ini.
Kenapa Gen-Z Tiba-tiba
Peduli Lingkungan Saat Liburan?
Bukan
tiba-tiba. Pergeseran ini sudah berlangsung bertahun-tahun, dan baru sekarang
terasa nyata di lapangan. Bagi Gen-Z, trveling sudah naik kelas menjadi
kebutuhan primer, setara healing atau staycation, bukan sekadar pelarian
sesekali.
Yang
membedakan mereka dari generasi sebelumnya adalah preferensi. Mereka lebih
memilih:
- Destinasi yang punya konsep
keberlanjutan nyata, bukan hanya slogan
- Local immersion yang otentik,
bukan paket wisata generik
- "Hidden gem" yang
terasa personal, bukan spot yang sudah viral jutaan kali
Ini yang
membuat eco-tourism Jawa Timur menemukan momentum yang tepat. Gaery Undarsa,
Co-Founder & CMO tiket.com, menyebut Gen-Z sebagai pendorong besar
pariwisata modern.
Bagi
mereka, wisata dengan konsep sustainability bukan sekadar tren, tapi bagian
dari gaya hidup yang relevan untuk masa depan.
Apa Saja Aksi Nyata yang
Sudah Terjadi?
Ini bukan
wacana. Sejumlah destinasi di Jawa Timur sudah punya rekam jejak yang bisa
diverifikasi.
Puncak
Bromo, Probolinggo Kolaborasi
lintas sektor berhasil mengumpulkan 1 ton sampah dari area Lautan Pasir hingga
Pura Poten, mayoritas plastik berupa botol minum dan kemasan. Bukan angka kecil
untuk kawasan wisata aktif.
Pantai
Pulau Merah, Banyuwangi
Program beach clean-up rutin bersama komunitas EcoRanger sudah berjalan sejak
2018 dan berhasil mengelola 698 kg sampah di kawasan tersebut. Program ini
tidak incidental, jadwalnya konsisten.
Pantai
Bale Kambang, Malang
Inovasi paling menarik datang dari gerakan Ecomon Hunters. Wisatawan diberi
trashbag, mengumpulkan sampah, dan mendapatkan poin yang bisa ditukar insentif
seperti diskon penginapan atau biaya camping. Wisata zero waste yang punya
sistem reward nyata.
Pantai Bohay, Probolinggo Gerakan bersih pantai kolektif yang berhasil menekan volume sampah plastik di garis pantai dan area mangrove secara konsisten.
Dari Sampah Jadi Produk:
Inovasi Gen-Z yang Bikin Melongo
Di sinilah
eco-tourism Jawa Timur punya dimensi yang lebih dari sekadar pungut sampah. Ada
Gen-Z yang mengubah potensi lingkungan yang selama ini diabaikan, menjadi cuan
nyata.
Pasuruan:
Adinda Putri Kusumawardhani
Adinda tidak melihat buah mangrove sebagai limbah. "Saya berpikir, apakah
buah mangrove ini tidak ada manfaatnya? Ternyata bisa dijadikan penganan dan
membantu ekonomi warga untuk lepas dari belenggu kemiskinan," ujarnya.
Hasilnya:
merek "Macaro," kopi non-kafein dan keripik berbahan buah mangrove
yang sekarang punya pasar sendiri.
Surabaya:
Revalina Fernanda
Revalina membuktikan bahwa lahan sempit di permukiman padat pun bisa produktif.
Bunga telang yang ia budidayakan diolah menjadi sabun cair dan face mist, produk
UMKM bernilai ekonomi yang murni lahir dari kepedulian pada lingkungan lokal.
Apa Bedanya Eco-Tourism
dengan Wisata Biasa?
Eco-tourism
bukan hanya "wisata di alam terbuka." Perbedaan mendasarnya ada di
niat dan dampak:
- Wisata konvensional: datang, nikmati, pulang.
Dampak lingkungan jadi urusan pengelola.
- Eco-tourism: datang, nikmati, aktif
berkontribusi pada pelestarian, dan idealnya meningkatkan kesejahteraan
warga lokal.
Jawa Timur
menarik karena punya kedua elemen itu secara nyata, bukan sekadar klaim di
brosur wisata.
Kalau kamu
lebih suka eco-tourism yang menggabungkan sensasi fisik ekstrem dengan panorama
alam, paralayang di kawasan Batu Malang menawarkan pengalaman yang sulit
dicari padanannya di Jawa Timur.
Bagaimana Cara Ikut
Eco-Tourism di Jawa Timur?
Mulainya
tidak harus ribet. Beberapa langkah konkret yang bisa langsung dilakukan:
- Cari komunitas beach clean-up
aktif seperti
EcoRanger di Banyuwangi atau Ecomon Hunters di Malang, mereka biasanya
membuka pendaftaran relawan secara berkala
- Pilih penginapan atau operator
wisata yang
punya program ramah lingkungan transparan, bukan hanya logo "go
green" di website
- Bawa perlengkapan zero waste: botol minum isi ulang, tote
bag, dan kantong sampah sendiri
- Dokumentasikan dan bagikan aksi di media sosial, tekanan
sosial positif dari konten eco-travel terbukti mempengaruhi keputusan
wisatawan lain
Untuk yang
suka suasana alam sambil kerja atau ngopi santai dengan pemandangan gunung,
kawasan perbukitan sekitar Jawa Timur juga punya deretan kafe tersembunyi di Trawas dengan view Gunung Penanggungan yang layak dipertimbangkan.
Apakah Eco-Tourism di Jawa
Timur Sudah Benar-Benar Berdampak?
Jawabannya:
ya, dengan catatan. Data menunjukkan dampak nyata, 1 ton sampah di Bromo,
hampir 700 kg di Pulau Merah. Tapi angka itu masih sangat kecil dibandingkan
total volume sampah yang dihasilkan aktivitas wisata setiap tahunnya.
Yang lebih
penting adalah sistemnya. AKP Ardhi Bita Kumala, Kapolsek Sukapura, menekankan
bahwa kesadaran individual wisatawan adalah kuncinya.
Membawa
kembali sampah sendiri dan membuangnya di titik transit atau hotel, bukan
ditinggal di alam. Gerakan komunitas tidak akan cukup kalau perilaku dasarnya
belum berubah.
Artinya,
eco-tourism Jawa Timur sedang dalam fase membangun infrastruktur kesadaran.
Hasilnya belum sempurna, tapi arahnya benar dan Gen-Z yang mendorong paling
keras.
Kenapa Eco-Tourism Jawa
Timur Akan Terus Tumbuh?
Kombinasi
yang sulit ditiru daerah lain:
- Keragaman ekosistem: pantai,
gunung berapi aktif, hutan mangrove, kawasan pertanian
- Komunitas lokal yang sudah
aktif dan punya sistem terorganisir
- Gen-Z sebagai pasar terbesar
wisata domestik yang justru menginginkan pengalaman bermakna
Eco-tourism
di sini bukan niche kecil lagi. Ia sedang bergerak menjadi standar baru wisata
Jawa Timur.
Eco-tourism
Jawa Timur sudah melewati fase wacana. Dari 1 ton sampah di Bromo, 698 kg di
Pulau Merah, hingga inovasi produk mangrove di Pasuruan, ada bukti nyata yang
bisa diverifikasi. Gen-Z bukan hanya konsumen wisata ini; mereka adalah
arsiteknya.
Tantangan
ke depan bukan soal apakah gerakan ini nyata, tapi seberapa cepat infrastruktur
kesadaran dan sistem reward seperti Ecomon Hunters bisa direplikasi ke lebih
banyak destinasi.
DAFTAR
SUMBER
- Suara Jatim Post. (2026). Aksi
Nyata di Puncak Bromo: Kolaborasi Lintas Sektor Bersihkan 1 Ton Sampah
Jelang Ramadan.
- Kanal24. (2025). Tren Baru
Gen Z, Liburan Bukan Sekadar Destinasi. Universitas Brawijaya.
- Bahri, F. (2026). Gerakan
Bersih Pantai Sebagai Upaya Mengurangi Sampah Di Kawasan Pantai Bohay
Paiton Probolinggo. Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA.