Jasa Digital Marketing UMKM

Jasa Press Release Portal Berita

Pelabuhan Ujung Galuh Surabaya: Sejarah dan Warisan Maritim

Kawasan Kali Mas Surabaya lokasi historis Pelabuhan Ujung Galuh

 

Ujung Galuh merujuk pada kawasan pelabuhan di muara Kali Mas yang kini masuk wilayah Surabaya utara. Nama ini muncul dalam sumber-sumber prasasti dan kronik Jawa kuno sebagai titik dermaga aktif.

Hubungan dengan Tarumanegara bersifat jaringan perdagangan regional, bukan penaklukan langsung, dan masih dalam kajian akademis. Kawasan ini berkembang menjadi pelabuhan utama era Singasari dan Majapahit sebelum beralih ke tangan VOC. Sisa-sisa historis kawasan ini kini dapat ditelusuri di Kota Lama Surabaya dan sekitar Jembatan Merah.

 

Apa Itu Pelabuhan Ujung Galuh dan Di Mana Lokasinya?

Pelabuhan Ujung Galuh adalah nama yang digunakan dalam literatur sejarah untuk menyebut kawasan pelabuhan kuno di muara Kali Mas, sungai yang bermuara di pesisir utara Surabaya dan mengalir dari Selat Madura. Lokasi ini secara geografis berada di kawasan yang kini dikenal sebagai Surabaya Utara, berdekatan dengan area Jembatan Merah dan Kota Lama.

Nama "Ujung Galuh" diyakini berasal dari bahasa Jawa Kuno, dengan "galuh" kemungkinan merujuk pada batu berharga atau tempat yang bernilai, mengindikasikan pentingnya lokasi ini bagi komunitas yang mendiaminya. Meski pemaknaan etimologis ini masih diperdebatkan di kalangan ahli bahasa dan sejarah, fungsi kawasan sebagai dermaga niaga tidak terbantahkan.

Secara fisik, Kali Mas memungkinkan kapal-kapal berukuran sedang untuk berlabuh jauh masuk ke daratan, menjadikan kawasan muaranya titik ideal bagi bongkar muat barang. Kondisi geografis inilah yang menjadikan Ujung Galuh lokasi pilihan sebagai pelabuhan bahkan sebelum era kolonial.

 

Bangunan bersejarah di kawasan Kota Lama Surabaya peninggalan era niaga maritim

Bagaimana Peran Ujung Galuh dalam Jaringan  Perdagangan Jawa Kuno?

Pelabuhan Ujung Galuh berperan sebagai pintu masuk dan keluar komoditas antara pedalaman Jawa Timur dan jaringan niaga maritim Nusantara yang lebih luas, setidaknya sejak abad ke-10 Masehi.

Kerajaan Singasari (1222-1292 M) dan kemudian Majapahit (1293-abad ke-15 M) memanfaatkan pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara Jawa Timur, termasuk kawasan Ujung Galuh, sebagai basis armada dan ekspor. Nagarakretagama, kakawin yang ditulis Mpu Prapanca pada 1365 M, menyebutkan jaringan pelabuhan Majapahit yang mencakup wilayah pesisir Jawa bagian timur sebagai titik keberangkatan ekspedisi dan perdagangan antarpulau.

Komoditas yang melewati Ujung Galuh mencakup beras, kayu, hasil bumi Jawa, dan rempah-rempah yang ditransitkan dari Maluku dan Banda. Posisi Surabaya sebagai kota pelabuhan yang tumbuh besar kemudian tidak terlepas dari warisan fungsi logistik kawasan Ujung Galuh ini.

 

Apa Kaitan Tarumanegara dengan Jaringan Pelabuhan Jawa Timur?

Kerajaan Tarumanegara, yang berpusat di Jawa Barat dan aktif antara abad ke-4 hingga ke-7 Masehi, memiliki kaitan dengan jaringan niaga pantai utara Jawa melalui jalur perdagangan interregional, meski bukti langsung keterhubungannya dengan Ujung Galuh masih bersifat tidak langsung.

Tarumanegara diketahui menjalin hubungan diplomatik dan niaga dengan Tiongkok, terbukti dari catatan utusan yang dikirimkan ke Dinasti Liu Song pada 528 M dan Dinasti Sui pada 528-600 M. Jaringan komunikasi maritim yang menghubungkan Jawa Barat dengan Jawa bagian tengah dan timur sangat mungkin melewati pelabuhan-pelabuhan pesisir utara Jawa, termasuk kawasan yang kelak menjadi Surabaya.

Penting untuk dicatat bahwa keterkaitan ini bersifat jaringan perdagangan dan komunikasi, bukan penguasaan politik langsung. Para peneliti seperti yang terhimpun dalam Kelompok Riset Sejarah Maritim Jawa umumnya berhati-hati dalam mengklaim hubungan langsung antara Tarumanegara dan situs-situs di Jawa Timur tanpa bukti prasasti atau artefak yang konklusif.

 

Apa yang Tersisa dari Pelabuhan Kuno Ini dan Apa yang Bisa Dikunjungi?

Sisa-sisa fisik Pelabuhan Ujung Galuh dalam bentuk aslinya sudah tidak ada, namun kawasan Kota Lama Surabaya dan sekitar Jembatan Merah menyimpan lapisan sejarah yang dapat ditelusuri oleh wisatawan heritage.

Kawasan Kota Lama Surabaya memiliki konsentrasi bangunan bersejarah dari era VOC dan kolonial Belanda yang dibangun di atas jaringan infrastruktur niaga yang sebelumnya digunakan oleh pedagang lokal dan asing. Beberapa gudang tua, jembatan, dan jalur air masih dapat diidentifikasi sebagai warisan topografi niaga masa lalu.

Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya yang dipublikasikan pada 2023, kawasan Kota Lama memiliki lebih dari 70 bangunan cagar budaya yang statusnya dilindungi, menjadikannya salah satu kawasan konservasi perkotaan terbesar di Jawa Timur. Revitalisasi kawasan ini menjadi prioritas pengembangan wisata Surabaya dalam rencana induk pariwisata 2025-2030.

 

Kesimpulan Praktis

Pelabuhan Ujung Galuh adalah fondasi sejarah yang menjadikan Surabaya kota pelabuhan besar. Meski fisiknya sudah bertransformasi, jejaknya masih dapat ditelusuri di Kota Lama Surabaya. Untuk wisatawan heritage, kawasan ini menawarkan narasi panjang tentang bagaimana sebuah muara sungai kecil berkembang menjadi salah satu pelabuhan terpenting Asia Tenggara.

 

Paket Outbound Perusahaan di Batu Malang