Benteng Kedung Cowek Surabaya: Sejarah, Misteri, dan Revitalisasi
![]() |
Komunitas sejarah menelusuri Benteng Kedung Cowek Surabaya dalam upaya pelestarian cagar budaya |
Benteng Kedung Cowek adalah benteng pertahanan pantai Hindia Belanda yang dibangun tahun 1900, menjadi saksi pertempuran November 1945, dan kini sedang direvitalisasi sebagai cagar budaya wisata edukasi di Surabaya.
Tidak jauh
dari Jembatan Suramadu, ada bangunan yang tidak banyak orang tahu namanya, tapi
hampir semua orang Surabaya pernah melintas tidak jauh dari lokasinya.
Benteng
Kedung Cowek. Berdiri di garis pantai utara Surabaya, ditumbuhi akar beringin
yang mencengkeram beton, sunyi, dan penuh cerita yang belum habis diceritakan.
Kapan Benteng Kedung Cowek
Dibangun?
Benteng ini
dirancang berdasarkan cetak biru dari Kapten Zeni J.C. Proper pada 15 Januari
1900, sebagai bagian dari sistem pertahanan militer pesisir Surabaya oleh
Pemerintah Hindia Belanda.
Proyek
pembangunannya tidak sepenuhnya selesai karena terhantam krisis ekonomi global
pada 1925. Tapi yang sudah terbangun sudah cukup untuk memberikan gambaran
betapa seriusnya Belanda memperkuat garis pertahanan lautnya di titik ini.
Arsitekturnya
unik karena mengikuti kontur pesisir pantai secara memanjang, dilengkapi dengan
lorong gudang amunisi beratap lengkung (arch), bastion atau menara
pantau di sisi pantai, dan lubang-lubang ventilasi untuk pengawasan laut.
Apa yang Terjadi di
Benteng Ini Saat Perang?
Ada dua
babak perang yang melibatkan Benteng Kedung Cowek, dan keduanya sama
pentingnya.
Babak
pertama: Pendudukan Jepang (1942)
Setelah armada laut Belanda dihancurkan, Jepang merebut benteng ini pada 1942
dan mengubah fungsinya menjadi markas pertahanan laut utara, gudang
persenjataan, dan penyimpanan amunisi.
Babak
kedua: Pertempuran Surabaya (November 1945) Ini adalah bagian yang paling berat. Setelah
proklamasi kemerdekaan, benteng ini diambil alih oleh Tentara Keamanan Rakyat
(TKR), Batalyon Sriwijaya yang terdiri dari pemuda Sumatra, dan bekas pasukan
Heiho. Mereka menggunakan meriam peninggalan Belanda untuk menembaki
kapal-kapal perang Inggris.
Tapi kapal
Inggris membalas dengan bombardir artileri yang jauh lebih kuat. Banyak pejuang
gugur di dalam benteng, dan jenazah mereka tidak sempat dievakuasi dengan
layak.
Ady
Setyawan dari Komunitas Roodebrug Soerabaia menjelaskan signifikansi tempat
ini: "Fungsi pertama dibangun ya untuk pertahanan pantai. Selain itu,
menjadi saksi perang 10 November 1945 dipakai pasukan bekas Heiho
Indonesia."
Mengapa Benteng Ini Terasa
Mistis?
Jawabannya
tidak bisa dipisahkan dari sejarahnya.
Banyak
pejuang yang gugur di sini tanpa sempat dimakamkan dengan layak. Struktur yang
kini ditumbuhi pepohonan liar dan akar beringin besar menciptakan suasana yang
gelap bahkan di siang hari. Lorong-lorong di dalamnya sunyi dengan cara yang
berbeda dari tempat-tempat yang memang dirancang untuk sepi.
Suyanto,
warga lokal Kedung Cowek, menyampaikan dengan sederhana: "Saya mendengar
dari warga, di sini aroma mistis kental sekali."
Dan untuk
tempat yang menyimpan sebanyak itu kenangan tentang kematian mendadak di tengah
pertempuran, mungkin wajar jika suasananya terasa berbeda.
Apa Saja Bagian Fisik
Benteng yang Masih Bisa Dilihat?
Beberapa
elemen arsitektur yang masih bisa diamati:
- Lorong gudang amunisi dengan
atap lengkung (arch vault) dari beton tebal
- Bastion atau menara pantau yang
menghadap ke arah laut utara Surabaya
- Lubang-lubang ventilasi dan
celah pengawasan di sisi dinding
- Akar beringin besar yang sudah
menyatu dengan struktur beton selama puluhan tahun
- Sisa-sisa ruang yang dulu
berfungsi sebagai tempat penyimpanan senjata
Kondisinya
memang jauh dari sempurna. Tapi justru di sana nilai visualnya ada: perpaduan
antara arsitektur militer kolonial dan alam yang perlahan merebut kembali
ruangnya.
Apakah Benteng Kedung
Cowek Akan Dibuka untuk Wisata?
Sedang
dalam proses, dan potensinya besar.
Irvan
Widyanto, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkot Surabaya, menyatakan:
"Jika ini bisa direalisasikan, maka akan menjadi wisata bunker pertama di
Indonesia. Tentunya akan menambah destinasi wisata baru di Surabaya."
Benteng ini
telah resmi ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui SK Wali Kota
Surabaya pada 2019-2020. Penelitian arsitektur dari UPN Veteran Jawa Timur
mengategorikannya sebagai benteng pertahanan situasional dengan tipologi yang
unik dan layak dipreservasi.
Pendekatan
revitalisasi yang sedang dikaji adalah arsitektur naratif, yaitu membangun
narasi sejarah secara fisik di dalam kawasan sehingga pengunjung bisa merasakan
kronologi sejarah hanya dengan berjalan melalui ruang-ruangnya.
Bagaimana Cara Mengunjungi
Benteng Kedung Cowek?
Secara
lokasi, benteng ini berada di Surabaya Utara, tidak jauh dari Jembatan
Suramadu. Koordinat umumnya dikenal di kalangan komunitas sejarah dan pecinta
cagar budaya Surabaya.
Saat ini
akses belum sepenuhnya terbuka untuk publik umum karena proses revitalisasi
masih berjalan. Tapi bagi yang ingin mengunjungi, bergabung dengan komunitas
sejarah seperti Komunitas Roodebrug Soerabaia atau menghubungi Dinas Kebudayaan
Kota Surabaya adalah cara yang paling tepat untuk mendapatkan akses dengan
pemandu yang tahu seluk beluk tempat ini.
Mengunjungi
Benteng Kedung Cowek dalam konteks yang lebih luas adalah bagian dari
eksplorasi dark tourism di wilayah Surabaya dan Jawa Timur secara keseluruhan,
yang menawarkan lapisan sejarah jauh lebih dalam dari destinasi wisata biasa.
![]() |
Eksterior Benteng Kedung Cowek dari arah laut, struktur pertahanan pantai Belanda tahun 1900, Sumber: begandring.com |
Benteng
Kedung Cowek bukan sekadar reruntuhan di tepi pantai. Ini adalah saksi bisu
dari tiga era yang masing-masing meninggalkan jejaknya di beton yang sama:
ambisi militer kolonial Belanda, pendudukan Jepang, dan heroisme pejuang yang
mempertahankan kemerdekaan dengan nyawa mereka.
Revitalisasinya
bukan sekadar proyek wisata, tapi kewajiban untuk tidak membiarkan semua itu
hilang ditelan lumut dan akar beringin.
02. Isnainazzahra, U. E., dkk. (2023). "Tipologi Benteng Kedung Cowek sebagai Bagian dari Sistem Pertahanan Situasional." Seminar Nasional Arsitektur Pertahanan 2023. UPN "Veteran" Jawa Timur.
03. Nabilah, I., A'la, A., & Rochimah. (2025). "Benteng Peluru Kedung Cowek sebagai Saksi Bisu Strategi Militer Jepang di Surabaya (1942-1945): Kondisi Saat ini dan Upaya Pelestarian." Prosiding KONMASPI Volume 2. UIN Sunan Ampel Surabaya.

