Akulturasi Pesisir Utara Jawa Timur Budaya Tionghoa dan Arab

Pedagang Tionghoa aktif di pesisir
utara Jawa Timur sejak paling lambat abad ke-9 Masehi, meninggalkan warisan
arsitektur dan kuliner. Saudagar Arab dan Gujarat membawa Islam dan mendirikan
pemukiman yang berkembang menjadi pusat keagamaan berpengaruh seperti kawasan
Ampel Surabaya.
Dua arus budaya ini tidak saling
menggantikan, melainkan berlapis membentuk identitas khas pesisir Jawa Timur. Gresik
dan Surabaya menjadi dua kota dengan bukti akulturasi paling lengkap dan paling
terdokumentasi. Warisan akulturasi ini masih hidup dalam arsitektur, perayaan
budaya, dan tradisi kuliner masyarakat pesisir hingga kini.
Bagaimana Komunitas Tionghoa Membentuk Wajah Pesisir Utara Jawa Timur?
Komunitas Tionghoa di pesisir utara
Jawa Timur hadir sebagai pedagang yang kemudian menetap, membawa serta praktik
arsitektur, sistem niaga, dan tradisi yang secara bertahap berintegrasi dengan
kehidupan lokal.
Catatan dari Dinasti Song Tiongkok
(960-1279 M) menyebut pelabuhan-pelabuhan di Jawa sebagai tujuan niaga aktif,
mengindikasikan komunitas Tionghoa sudah hadir di pesisir Jawa jauh sebelum era
kolonial Eropa. Mereka membawa porselen, kain sutra, dan produk kerajinan yang
ditukar dengan rempah, kayu, dan hasil bumi Jawa.
Jejak fisik yang paling kasat mata
adalah klenteng-klenteng tua yang tersebar di kawasan pesisir Surabaya dan
Gresik. Klenteng Hok An Kiong di Surabaya, misalnya, merupakan salah satu
bangunan ibadah tertua yang masih berfungsi di kota tersebut, mencerminkan
kesinambungan komunitas Tionghoa selama berabad-abad. Arsitektur klenteng
pesisir Jawa umumnya menunjukkan adaptasi dengan iklim dan material lokal, menjadikannya
produk akulturasi itu sendiri.
Di luar arsitektur, pengaruh
Tionghoa terlihat dalam sistem perniagaan, terminologi dagang lokal, dan
kuliner pesisir. Beberapa hidangan khas Surabaya dan Gresik merupakan hasil
percampuran teknik memasak Tionghoa dengan bahan-bahan lokal yang tidak dapat
ditemukan dalam bentuk aslinya di Tiongkok daratan.
Bagaimana Saudagar Arab Membawa Islam ke Pesisir Jawa Timur?
Saudagar Arab dan Gujarat membawa
Islam ke pesisir Jawa Timur melalui jalur perdagangan, mendirikan pemukiman
yang berkembang menjadi pusat penyebaran agama dan kebudayaan Islam di wilayah
tersebut.
Proses Islamisasi pesisir utara Jawa
Timur umumnya dikaitkan dengan jaringan ulama-pedagang dari Hadramaut (Yaman)
dan Gujarat (India) yang aktif di Nusantara sejak abad ke-13 Masehi. Mereka
tidak datang sebagai penakluk, melainkan sebagai saudagar yang kemudian
menikahi perempuan lokal, mendirikan masjid, dan membangun pesantren sebagai
institusi pendidikan.
Kawasan Ampel di Surabaya, yang
berkembang di sekitar makam Sunan Ampel (Raden Rahmat, wafat sekitar 1481 M),
adalah contoh paling nyata dari pola Islamisasi ini. Kampung Arab yang
mengelilingi Masjid Ampel hingga kini menyimpan karakter pemukiman
niaga-religius yang tidak banyak berubah sejak berabad-abad lalu. Populasi
keturunan Arab di kawasan ini masih aktif dalam perdagangan, sesuai dengan
tradisi leluhur mereka.
Gresik juga memegang peran penting.
Maulana Malik Ibrahim, tokoh yang dianggap sebagai wali pertama di Jawa,
dimakamkan di Gresik setelah wafat pada 1419 M. Makamnya kini menjadi destinasi
ziarah yang dikunjungi ratusan ribu peziarah setiap tahun, menandai Gresik
sebagai salah satu titik paling sakral dalam narasi Islamisasi Jawa.
Studi demografi dari Universitas
Airlangga yang dipublikasikan sekitar 2019 mencatat bahwa komunitas keturunan
Arab di Surabaya dan Gresik berjumlah puluhan ribu jiwa dan masih
mempertahankan identitas kultural yang kuat, menjadikan mereka salah satu
komunitas diaspora Arab terbesar dan paling terdokumentasi di Indonesia timur.
Apa Bukti Akulturasi yang Masih Bisa Disaksikan Hari Ini?
Bukti akulturasi Tionghoa-Arab di
pesisir utara Jawa Timur masih dapat disaksikan dalam bentuk arsitektur,
perayaan budaya, dan tradisi sosial yang bertahan hingga masa kini.
Di Surabaya, berdampingannya Masjid
Ampel dan kawasan Pecinan lama mencerminkan koeksistensi dua komunitas yang
berbeda latar belakang namun hidup berdampingan selama berabad-abad dalam satu
ekosistem niaga. Perayaan Imlek di kawasan Kembang Jepun dan tradisi ziarah ke
makam-makam wali di Ampel berlangsung hampir bersamaan setiap tahun tanpa
konflik, mencerminkan toleransi yang tertanam dalam budaya pesisir.
Di Gresik, masjid-masjid tua
memperlihatkan elemen arsitektur yang meminjam dari tradisi pembangunan
Tiongkok, termasuk penggunaan atap bertingkat yang menyerupai pagoda, sebuah
fenomena yang juga ditemukan di masjid-masjid tua Demak dan Kudus. Hal ini
menunjukkan bahwa dua budaya tidak hanya berdampingan, tetapi juga saling
meminjam estetika dalam konteks yang baru.
Kuliner pesisir Jawa Timur adalah arena akulturasi yang paling mudah diakses sehari-hari. Rawon, nasi bebek, dan berbagai lauk pesisir memadukan teknik memasak, bumbu, dan filosofi kuliner dari berbagai tradisi, menciptakan dapur lokal yang tidak secara eksklusif milik satu komunitas.
Kesimpulan Praktis
Akulturasi Tionghoa dan Arab di
pesisir utara Jawa Timur bukan sekadar catatan historis, melainkan realitas
hidup yang masih bisa disaksikan di Surabaya dan Gresik. Kawasan Ampel, Kembang
Jepun, dan Gresik lama adalah ruang di mana sejarah pertemuan peradaban masih
terasa hadir. Wisatawan yang datang dengan pemahaman latar historis akan
mendapatkan pengalaman yang jauh lebih kaya dibandingkan kunjungan biasa.