Widget HTML #1

Outbound Batu Malang

Beda Geopark dan Cagar Alam, Jangan Sampai Salah

Tebing tapal kuda Ciletuh, contoh geopark yang terbuka wisata

Geopark vs cagar alam beda secara fundamental, geopark terbuka untuk pariwisata berkelanjutan, sedangkan cagar alam mutlak dilarang untuk rekreasi dan hanya untuk konservasi serta penelitian.

Saya masih sering menemukan orang yang niatnya mau healing ke "cagar alam" padahal itu kawasan yang sebenarnya terlarang untuk wisata. Bukan salah mereka sepenuhnya, karena memang istilah geopark dan cagar alam kerap tertukar di media sosial.

Padahal kalau nekat, ini bukan cuma soal etika, tapi bisa berujung masalah hukum. Yuk saya jelaskan bedanya biar Anda tidak salah rencana.

 

Apa Perbedaan Utama Geopark dan Cagar Alam?

Perbedaan utamanya ada pada fungsi dan izin aktivitas manusia di dalamnya. Geopark dirancang untuk dikunjungi, cagar alam sebaliknya.

Berikut perbandingan cepatnya:

  • Definisi: Geopark adalah kawasan geografis dengan warisan geologi yang dikelola terpadu untuk perlindungan, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan. Cagar alam adalah kawasan suaka dengan kekhasan tumbuhan dan satwa yang perkembangannya diserahkan pada proses alami.
  • Status hukum: Geopark diakui nasional maupun internasional (UNESCO), dievaluasi tiap 4 tahun. Cagar alam berstatus perlindungan tertinggi dalam regulasi kehutanan Indonesia.
  • Aktivitas utama: Geopark untuk konservasi, wisata edukasi, budaya, dan penelitian. Cagar alam murni untuk penelitian ilmiah dan pendidikan.
  • Pariwisata: Geopark sangat diperbolehkan dan didorong. Cagar alam dilarang keras, bahkan bisa dipidanakan kalau nekat.
  • Akses: Geopark cukup tiket masuk umum. Cagar alam wajib punya Simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) resmi dari BKSDA.
  • Keterlibatan manusia: Di geopark, masyarakat lokal menetap dan aktif jadi pengelola wisata. Di cagar alam, kehadiran manusia dibatasi ketat agar tidak mengganggu ekosistem dan satwa.

 

Kenapa Cagar Alam Dilarang untuk Wisata?

Karena fungsinya murni untuk melindungi ekosistem asli yang sifatnya tidak bisa dipulihkan kalau sudah rusak. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur menegaskan kawasan cagar alam mutlak hanya untuk kegiatan konservasi, penelitian, dan pendidikan, bukan rekreasi umum.

Yayasan Dana Mitra Lingkungan (DML) juga mengingatkan bahwa ekosistem asli di kawasan lindung bersifat irreversible, sehingga privasi alam di sana harus benar-benar dihormati.

Sementara itu, BKSDA Bali menjelaskan fungsi Simaksi sebagai instrumen wajib pengendali aktivitas manusia di dalam suaka alam, berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor SK.192/IV-Set/HO/2006.

 

Apa Contoh Nyata Cagar Alam yang Sering Disalahgunakan?

Contoh paling terkenal adalah Pulau Sempu di Malang, Jawa Timur. Luasnya 877 hektare dan sudah berstatus cagar alam sejak masa Hindia Belanda, tepatnya 1928.

Pulau ini punya laguna Segara Anakan yang memang sangat indah secara visual. Tapi sejak 2017, pulau ini terlarang untuk dikunjungi wisata demi melindungi satwa langka seperti elang jawa, lutung jawa, dan macan tutul.

Alternatifnya, wisatawan diimbau beralih ke Pantai Sendang Biru yang letaknya persis di seberang Pulau Sempu, jadi Anda tetap bisa menikmati kawasan itu tanpa melanggar aturan.

 

Apa Fakta Unik yang Membedakan Geopark Indonesia dari Kawasan Lindung Lain?

Fakta uniknya, geopark justru dirancang supaya masyarakat dan alam bisa hidup berdampingan sambil tetap menjaga nilai ilmiahnya. Beberapa contoh:

  • Geopark Kebumen, Jawa Tengah, menyimpan formasi batuan purba tertua di Pulau Jawa, usianya lebih dari 120 juta tahun.
  • Geopark Merangin, Jambi, punya fosil flora purba sekitar 296 juta tahun yang menempel di batuan sungai.
  • Geopark Ijen, Jawa Timur, punya danau paling asam di dunia plus fenomena blue fire.
  • Geopark Ciletuh, Sukabumi, seluas 1.260 km² dengan tebing melengkung raksasa menyerupai tapal kuda.

Kalau Anda penasaran akses menuju kawasan Ijen sekaligus spot-spot tersembunyinya, saya sudah bahas lengkap di cara menuju Geopark Ijen Banyuwangi dan spot yang jarang diketahui wisatawan, bisa jadi referensi lanjutan.

 

Kalau Bukan Cagar Alam, Ke Mana Sebaiknya Traveler Pergi?

Kalau tujuan Anda memang rekreasi alam, ada tiga jenis kawasan resmi yang memang dirancang untuk itu:

  • Taman Nasional, untuk camping, mendaki gunung, fotografi, dan edukasi, contohnya Gunung Rinjani dan Bromo. Tetap perlu registrasi atau Simaksi.
  • Taman Wisata Alam (TWA), untuk rekreasi keluarga, piknik, dan outbound.
  • Hutan Raya atau Hutan Kota, untuk olahraga ringan dan ruang terbuka hijau.

Poin pentingnya, selalu terapkan etika Leave No Trace: bawa pulang sampah Anda sendiri, jangan ambil apa pun dari alam seperti tanaman atau batu, dan jaga jarak aman dari satwa liar tanpa memberi makan sembarangan.

 

Pantai Sendang Biru, alternatif wisata dekat cagar alam Sempu
Pantai Sendang Biru, alternatif wisata dekat cagar alam Sempu | Sumber: Google Maps

Apakah Geopark Juga Punya Aturan yang Harus Ditaati Wisatawan?

Ya, meski lebih longgar dibanding cagar alam, geopark tetap punya aturan zonasi dan sebagian kawasan memerlukan reservasi atau pemandu khusus demi keselamatan. Jadi jangan disamakan dengan taman wisata bebas tanpa aturan sama sekali.

Kalau Anda mau lihat gambaran menyeluruh soal lokasi, tiket, dan cara menikmati berbagai geopark di Indonesia, saya rangkum semuanya di panduan wisata geopark Indonesia yang bisa jadi bahan perencanaan trip Anda selanjutnya.

Geopark dan cagar alam sama-sama soal alam, tapi tujuannya jauh berbeda. Sebelum posting rencana liburan ke media sosial, pastikan dulu destinasi Anda memang legal untuk dikunjungi, bukan sekadar viral di foto orang lain.

 

DAFTAR SUMBER

  1. Yayasan Dana Mitra Lingkungan (DML) - Cagar Alam Bukan Tempat Wisata Biasa
  2. Portal Pariwisata Resmi Indonesia (Indonesia Travel) - Apa Itu UNESCO Global Geopark
  3. Badan Pengelola Geopark Nasional Natuna - Sekilas Tentang Geopark
Magang Pixxel Pro